SMA Islam Al-Azhar 4 Kemang Pratama

Aplikasi yang bisa diakses online 24 jam full oleh orang tua, siswa, guru & tata usaha.

Backpacker 1718

28 July 2017, 10:10

SIMFONI PULAU LOMBOK, MATUR TAMPIASIH!

 

Sebuah pulau menawan di bagian Indonesia tengah tepatnya di provinsi di Nusa Tenggara Barat. Tepatnya Pulau Lombok, pulau eksotis yang menawarkan citra yang menyihir banyak wisatawan asing dan lokal untuk datang ke sana. Pemandangan alam yang terjaga serta dipadu dengan warisan adat leluhur yang masih terus jaga dari generasi ke generasi oleh suku asli mereka. Pulau yang di sebut juga Pulau seribu masjid yang di mana hampir setiap satu kilometer pasti kita temukan masjid-masjid yang indah dengan arsitekturnya yang khas. Semua itu memanjakan wisatawan untuk betah lama-lama di pulau nan indah itu.

Kamipun memindahkan pembelajaran dari dalam kelas dari SMA Islam Al Azhar 4, Bekasi menuju Pulau Lombok. Pulau yang patut didatangi oleh semua orang. Kami memulai perjalanan kami yang kami namakan Backpacker pada hari jumat tanggal 21 Juli 2017 dari Halim Perdana Kusuma, Jakarta menuju Lombok International Airport. Kami disambut dengan pemandangan yang luar biasa. Jalan raya yang lengang, tanah yang masih luas, serta senyuman para warga yang ramah tak seperti Ibu Kota Jakarta yang kita ketahui.

Kami memulai perjalanan kami menuju Desa Sukarara, menyaksikan pembuatan kain khas suku Sasak. Kerajinan kain ini dibuat dengan cara yang masih tradisional dengan alat pintal yang masih mengandalkan tenaga dan ketelitian dari si pengrajin. Satu kain yang dibuat paling cepat kurang lebih baru dapat menghasilkan satu buah kain saja. Adat suku Sasak meyakini bahwa untuk menenun kain harus dibuat oleh kaum perempuan, serta menjadi syarat bagi perempuan yang ingin menikah untuk dapat menyelesaikan kain buatannya sendiri. Sedang kaum pria tidak diperkenankan untuk menenun karena dapat menghambat untuk mendapatkan keturunan. Pembelajaran yang luar biasa yang mungkin tidak dipernah didapatkan di dalam kelas, luar biasa.

Perjalanan kami kedua, adalah mendatangi desa adat Ende. Desa yang masih menjaga keaslian dan keasrian adat suku Sasak. Desa yang masih mempertahankan keaslian rumah mereka yang beratap jerami dan berdinding bilik bambu, dan yang lebih mencengangakan lantai mereka yaitu dari tanah. Tapi bukan hanya sekedar tanah, tetapi tanah itu sudah dicampur dengan kotoran sapi, yah kotoran sapi. Tapi tanah yang tercampur itu tidak berbau entah ada tambahan hal lain yang mungkin mereka campurkan. Kami juga disajikan sebuah tarian yaitu Tari Peresean yang melibatkan dua orang yang saling beradu pukul, tarian ini dahulu disajikan untuk menentukan panglima perang. Sedangkan, sekarang disajikan untuk menyambut wisatawan dan pembelajaran untuk generasi berikutnya. Warisan yang terus harus dijaga untuk generasi berikutnya. Hari pertama yang begitu menakjubkan dan kami beristirhat dengan senyuman.

 

Hari kedua adalah hari yang tidak kalah seru, kami mendatangi tempat paling favorit bagi banyak wisatawan. Yaitu ke Gili Trawanga, Gili Air, dan Gili Meno perjalanan yang kami sebelum ke sana kami melawati wajah Lombok yang lain pemandangan pantai sengigi yang indah. Bukit dan pantai yang indah kami melalui menuju pelabuhan. Dari pelabuhan kami menuju Gili Trawangan sekitar 20—25 menit dari pelabuhan menuju ke sana. Hal yang berbeda dari pulau utama di sana akan melihat banyak sekali turis asing. Mereka juga membawa kebiasaan mereka, tahukah kalian? Apa yang saya maksud kebiasan mereka di pantai?. Kami rombongan SMA Al Azhar 4 mencoba mewarnai pantai dengan warna yang berbeda, para siswa berenang menggunkan pakaian yang menutup aurat dan juga menggunakan jilbab. Pemandangan yang kontras bukan, tetapi kami percaya diri dan ingin mengatakan bahwa kami tidak akan terpengaruh dan akan mempengaruhi mereka. Keindahan setiap gili (pulau kecil) di sana masih terjaga dan tidak ada kendaraan bermotor. Di sana hanya ada cidomo yang di Pulau Jawa di sebut delman atau andong. Keindahan laut warna hijau pada laut dangkal, kami masih bisa melihat dasar dengan jelas dengan terumbu karang yang asri dan ikan-ikan karang yang begitu banyak dan indah. Kita harus jaga itu semua untuk masa depan kita juga.

 

Menikmati matahari terbenam dengan makanan khas plecing kangkung dan secangkir kopi begitu nikmat. Jangan lupa coba sambal Lombok yang pedas luar biasa tapi begitu enak, serta ayam kalasan. Bisa dikatakan masakan Lombok cocok di lidah pecinta makanan pedas. Akhir perjalalanan kami begitu berkesan dengan Pulau Lombok dan berharap dapat kembali dengan orang yang kami cintai. Serta satu hal yang harus kita sadari negeri kita Indonesia menyimpan “Harta Karun” alam yang belum kita sadari dan patut kita kunjungi untuk mengatakanya kepada dunia!

SIMFONI PULAU LOMBOK, MATUR TAMPIASIH!

(oleh: Erisyah Putra, S.Pd.)